Minggu, 03 Oktober 2010


LAPORAN PRAKTIKUM
PENANGANAN IKAN SEGAR DAN PENGOLAHAN HASIL TANGKAPAN
Oleh :

1.Irman Rumengan
2.Melkias sanyar
3.Heremiel ambrau
4.Ruben warami
5.Yerius yelipele
6. Trisye oc. Hamatia
7.Yance mobi
8.Daniel ramar
9.Fransiska tebai

Lambang UNIPA-3D.png

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PETERNAKAN PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS NEGERI PAPUA
MANOKWARI
2010


KATA PENGANTAR
            Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sebab berkat serta karunia yang diberikan sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan laporan praktikum tentang penanganan ikan segar dan pengolahan hasil tangkapan dengan baik, kami juga mengucapkan banyyak terima kasih kepada piha-pihak terkait yang telah membantu kelompok kami menyelesaikan laporan praktikum  ini.
Dalam penulisan maupun kata-kata yang kami gunakan, jika didapati tidak berkenan dihati, kami selaku kelompok  memohon maaf, serta kritik maupun saran dalam hal memajukan dan menyempurnakan laporan ini kami sangat mengharapkan dan kami mengucapkan terima kasih .


penulis












DAFTAR ISI





















BAB I
PENDAHULUAN
1.1  latar belakang
Penanganan hasil tangkapan serta pengolahan hasil perikanan sangat berkaitan, sebab hail tangkapan yang didapatkan pasti akan diolah menjadi sebuah produk yang menghasilkan keuntungan, apabila penangana hasil perikanan dilakukan secara baik dan secara hati-hati, yan bermaksud agar kualitas hasil perikanan terus dalam kualitas yang baik dan maksimal, sehingga hasil tersebut dapat diolah dan menghasilkan suatu produk perikanan yang bermanfaant.
Ikan yang baik adalah ikan yang masih segar, sehingga disukai oleh konsumen. Penanganan dan sanitasi yang baik sangat diperlukan untuk tetap menjaga kesegaran ikan, makin lama berada di udara terbuka maka makin menurun kesegarannya. Kesegaran ikan merupakan tolak ukur ikan itu baik atau jelek. Ikan dikatakan segar apabila perubahan-perubahan biokimiawi, mikrobiologik, dan fisikawi belum menyebabkan kerusakan berat pada ikan.karena sifat dari hasil perikanan bersifat cepat rusak ( busuk ) maka perlu diadakannya penanganan hasil tangkapan tersebut dimulai dari awal mendapatkan hasil sampai pada pengolahannya.
1.2 maksud dan tujuan
adapun maksud dan tujuan dari praktek penanganan hasil tanggkapan serta praktek pengolahan hasil perikanan adalah sebagai berikut :
ü  mengetahui seberapa tahan suatu hasil tanggkapan ( ikan ) jika diberikan perlakuan dan jika tidak diberikan perlakuan
ü  mengetahui kualitas hasil tanggkapan
ü  mengetahui cara mengolah hasil tanggkapan
ü  memberikan informasi kepada mahasiswa bagaimana cara langsung untuk melihat penanganan serta pengolahan produk perikanan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 kriteria ikan segar
Ikan segar lebih cepat mengalami kebusukan dibandingkan dengan daging mamalia. Kebusukan ikan mulai terjadi segera setelah proses rigor mortis selesai. Faktor yang menyebabkan ikan cepat busuk adalah kadar glikogennya yang rendah sehingga rigor mortis berlangsung lebih cepat dan pH akhir daging ikan cukup  tinggi yaitu 6.4–6.6, serta tingginya jumlah bakteri yang terkandung didalam
perut ikan. Bakteri proteolitik mudah tumbuh pada ikan segar dan menyebabkan bau busuk hasil metabolism            protein.

            Pada ikan hidup, makanan dalam saluran pencernaan diolah menjadi komponen-komponen sederhana, seperti gula dan asam amino, yang diserap oleh darah. Darah mengirim komponen-komponen ini kebagian tubuh yang membutuhkan, khususnya otot. Produksi komponen-komponen ini diinduksi oleh enzim, yang ada didalam saluran pencernaan maupun yang ada didalam otot. Setelah ikan mati, enzim-enzim ini masih tetap aktif. Akibatnya, terjadi proses autolisis atau penghancuran diri sendiri yang
akhirnya akan mempengaruhi flavor, tekstur, dan penampakan ikan. Proses autolisis karena aktivitas enzim ini dapat dilihat pada daging ikan. Secara fisik daging ikan yang telah mati (pasca mortem) mula-mula akan kehilangan elastisitasnya (tahap pre-rigor), kemudian terjadi kekakuan daging (tahap rigor-mortis) dan proses autolisis lebih lanjut akan menyebabkan daging menjadi lunak atau lemas lagi (tahap post-rigor).

            Reaksi autolisis bisa berlangsung secara cepat, misalnya pada ikan kecil berkadar lemak tinggi. Kerusakan awal biasanya terjadi pada bagian perut, karena aktivitas enzim di dalam saluran pencernaan dan menyebabkan pelunakan dibagian perut ikan. Sebagai contoh, proses autolisis ikan sarden bisa berlangsung hanya beberapa jam setelah penangkapan.




            Kecepatan proses autolisis sangat tergantung pada suhu. Penyimpanan ikan pada suhu dingin (hanya sedikit diatas suhu beku ikan) walaupun tidak menghentikan proses autolisis tetapi dapat memperlambat aktivitas enzim sehingga memperlambat kecepatan reaksi autolisis. Selain penyimpanan dingin, aktivitas enzim bisa pula dikontrol dengan metode pengawetan lainnya seperti penggaraman, penggorengan dan pengeringan. Aktivitas enzim akan terhenti oleh proses pemanasan. Suhu tinggi akan mempercepat proses rigor mortis, karena peningkatan suhu akan mempercepat reaksi biokimiawi. Untuk mempertahankan keawetan ikan, maka proses rigor-mortis ini diperlambat selama mungkin agar pertumbuhan bakteri dan reaksi enzimatis dapat dicegah.

            Pada tahap awal, mikroorganisme akan dijumpai pada lendir permukaan, insang dan saluran pencernaan ikan. Waktu yang dibutuhkan mikroorganisme untuk berpenetrasi dari kulit kedalam daging ikan bervariasi tapi diperkirakan sekitar 3-4 hari. Pertumbuhan mikroorganisme akan menyebabkan penyimpangan bau dan flavor. Walaupun begitu, ikan segar sendiri jarang menyebabkan keracunan pangan karena sebelum toksin terbentuk, pertumbuhan bakterinya cenderung membuat daging sudah tidak layak lagi untuk dimakan. Perlu diperhatikan, ada banyak jenis mikroorganisme dan masing-masing
memiliki kondisi optimum untuk pertumbuhannya.Sehingga akan terlihat beberapa mikroorganisme menjadi dominan, tergantung pada kontaminasi awal, sifat bahan pangan, suhu dan kondisi
lainnya. Dengan penyimpanan dingin pada suhu sekitar 0oC, pertumbuhan bakteri pembusuk akan berhenti/diperlambat dan kecepatan pembusukan dapat diperlambat. Suhu ruang, ketersediaan air dan oksigen akan meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme. Pada kondisi ruang, ketersediaan air dan oksigen mempunyai pengaruh yang besar pada aktivitas mikrobiologi. Kecepatan proses kerusakan ikan selama pencairan es tergantung pada kecepatan pencairan es (proses
thawing). Jumlah es yang diberikan harus dapat mempertahankan suhu ikan tetap pada 0°C dengan proses thawing cepat, akan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan proses thawing yang lambat. Proses thawing cepat akan meminimalkan keluarnya cairan dan komponen larut air dari tubuh ikan. Jika ikan kontak dengan permukaan seperti kayu, logam atau ikan lain, penyimpangan bau akan meningkat. Tidak adanya oksigen pada kondisi ini menyebabkan peningkatan pertumbuhan dan aktivitas bakteri anaerobik.

            Karena mikroorganisme merupakan penyebab utama kerusakan ikan, maka kita harus memberi perlakuan-perlakuan khusus untuk menghindari kondisi-kondisi yang mempercepat pertumbuhan mikroorganisme. Kecepatan pertumbuhan mikroorganisme meningkat sangat cepat pada suhu tinggi dan kondisi yang tidak higienis. Sehingga, untuk memperlambat kerusakan karena aktivitas mikroorganisme, ikan harus didinginkan segera setelah penangkapan dan disimpan pada kondisi higienis. Beberapa perubahan kimiawi yang disebabkan oleh aktivitas enzim, biasanya
terjadi sebelum berlangsungnya kerusakan karena aktivitas mikroorganisme. Reaksi enzim ini terkait dengan proses rigor mortis. Proses ini mengakibatkan terjadinya dekomposisi beberapa komponen kimia, yang menyebabkan penyimpangan bau dan flavor ikan.

            Kerusakan protein dan oksidasi lemak biasanya terjadi pada tahap akhir dari proses kerusakan ikan. Kecepatan reaksi oksidasi lemak akan tergantung pada jenis ikan (ukuran, kadar lemak, musim). Trimetil amin oksida (TMAO), yang terdapat da-lam semua ikan laut, biasanya tidak ada didalam ikan air tawar. Pemecahan TMAO menjadi trimetil amin (TMA) merupakan reaksi penting dari kerusakan ikan secara enzimatis. Kandungan TMAO biasanya digunakan sebagai indikator dari kesegaran ikan. Selain itu,penentuan kandungan amoniak (hasil pemecahan urea) pada beberapa ikan, seperti hiu, juga penting untuk menentukan kesegaran ikan.















BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 waktu dan tempat
            Adapun waktu dan tempat pelaksanan praktikum  penanganan hasil tangkapan dan penggolahan hasil perikanan adalah sebagai berikut yaitu :
v  Penanganan Ikan Segar
ü  Waktu  : selasa 11 mei 2010, mulai pukul 16.00 wit ( jam 4 sore)
ü  Tempat : di labolatorium mikro perikanan, manokwari, papua barat
v  Pengolahan Hasil Tangkapan
ü  Waktu  :selasa, 2 juni 2010, mulai pukul 10.00 wit
ü  Tempat            : fakultas perikanan
3.2 alat dan bahan
            Adapun alat dan bahan dalam praktikum penanganan ikan segar dan pengolahan hasil tangkapan adalah sebagai berikut :
v  Penanganan Ikan Segar
·         Alat
ü  Alat tulis menulis
ü  Baki ( untuk meletakan ikan )
·         Bahan
ü  Ikan ( 5 ekor ikan )
ü  Air






v  Pengolahan Hasil Tangkapan
·         Alat 
ü  Pisau
ü  Ulekan ( menggiling daging ikan )
ü  Kompor
ü  Loyang/ baki
ü  Daun pisang
ü  Dandang pengukus
ü  Sendok dan garpu
·         Bahan
ü  Ikan
ü  Tepung
ü  Air
ü  Garam
ü  Bawang putih
ü  Masako
3.3 prosedur kerja
            Adapun prosedur kerja dari praktukum penanganan ikan segar serta penggolahan hasil perikanan adalh sebagai berikut :
v  Penanganan Ikan Segar
ü  Menyiapkan ikan untuk objek pengamatan
ü  Membagikan kriteria penilaian ikan kepada anggota kelompok
ü  Memberikan penilaian terhadap ikan yang kita amati sesuai dengan criteria yang ada dalam penuntun kerja
ü  Mengumpulkan data dari anggota kelompok, kemudian direkap menjadi sat data
ü  Menggumpulkan hasil data rekap dari kelompok yang lain.





v  Pengolahan Hasil Tangkapan
ü  Menyiapkan ikan yang akan diolah ( membeli ikan di pasar ikan sanggeng), dalam praktikum ini kelompok kami menggunakan ikan cakalang untuk membuat kerupuk ikan
ü  Menyiapkan bumbu-bumbu
ü  Mengeluarkan tulang ikan, dan mengambil dagingnya saja untuk di olah
ü  Menghancurkan/ menggiling ikan yang telah dikeluarkan tulangnya hingga halus, penghancuran/ penggilingan ikan menggunakan ulekan ( alat untuk menggiling ikan )
ü  Mengulek bawang putih hingga halus
ü  Mencampurkan daging dan bawang yang telah dihancurkan hingga campuran rata
ü  Mencampurkan daging yang telah dicampurkan bawang putih dengan tepung, kemudian campurkan hingga daging dan tepung menjadi satu.
ü  Setelah daging dan tepung rata dicampur, kemudian taruh campuran ikan tersebut ke daun pisang kemudian dibungkus.
ü  Hasil ikan yang telah dibungkus kemudian diletakan di dandang pengukus, kemudian kukus bungkusan hingga 1 jam 30 menit.
ü  Setelah pengukusan selama 1 jam 30 menit, kemudian angkat bungkusan dari dandang pengukus.
ü  Setelah mengangkat bungkusan dari dandang pengukus, kemudian buka bungkusan dan mengeluarkan adonan ikan yang ada dalam bungkusan ke Loyang/ baki.
ü  Setelah melakukan pengukusan dan pengangkatan adonan, kemudian diami adaonan selam 1 malam
ü  Setelah diami adonan selama  1 malam, kemudian potong tipis-tipis adonan
ü  Setelah memotong tipis-tipis, kemudian jemur kerupuk ikan dibawah sinar mata hari selama kurang lebih 5 jam
ü  Setelah menjemur kerupuk ikan, kemudian angkat lalu digoreng menjadi kerupuk ikan.





§  Skema proses pengolahan kerupuk ikan
Down Arrow Callout: Persiapan ikan



Down Arrow Callout: Pisahkan daging dari tulang, kulit dan dihaluskan
 



Down Arrow Callout: Pencampuran ikan, garam dan masako


Down Arrow Callout: Bentuk adonan menjadi silinder dan bungkus dengan daun pisang


Down Arrow Callout: Pengukusan selama 1,5 ( satu setengah jam )


Down Arrow Callout: Diangini selama 2 malam



Pemotongan, penjemuran, pengorengan


 
 

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Penanganan Ikan Segar
v  Hasil
Pada prktikum penanganan ikan segar, kami mengunakan metode penilai atau kami memberikan nilai pada ikan yang kami amati. Penilaian ini diebut penilaian ikan segara secara organoleptik.
Tebel  penilaian ikan segar secara organoleptik :
v  Hasil rekap nilai dari kelompok 1
no
Sasaran pengamatan
Keadaan
nilai
007
246
375
157
043
1
MATA
 sangat segar,cembung,hitam,kornea jernih
5
2
2
6
-
-


Segar, cembung, agak putih,kornea jernih
4
6
6
4
7
-


Agak tenggelam, biji mata kelabu, kornea agak kelabu
3
2
1
-
3
4


Tenggelam, biji mata putih susu, kornea keruh
2
-
1
-
-
-


Biji mata tenggelam penuh
0
-
-
-
-
-
2
INSANG
Merah cerah, lender cerah
5
4
4
6
1
1


Agak kecoklatan, lender masih jernih
4
5
6
4
8
-


Coklat memucat, lender kental
3
1
-
-
-
-


Coklat memucat, lendir banyak
2
-
-
-
1
3


Sangat coklat kehitaman, sangat banyak lendir
0
-
-
-
-
6
3
DINDING PERUT
Perut utuh, keras,tdk ada perubahan warna
5
3
4
7
2
-


Dinding perut utuh,agak keras,sedikit perubahan warna
4
3
5
3
4
-


Dinding perut utuh,lunak,sedikit perubahan warna
3
3
1
-
2
3



Dinding perut banyak berubah warna dan lembek
2
1
-
-
1
6


Dinding perut berubah arna total,lembek,lembek mulai pecah,usus keluar
0
-
-
-
1
1
4
DAGING
Kenyal,elastic terhadap tekanan jari dan cerah
5
3
5
9
1
-


Kenyal,elastic terhadap tekanan jari dan kulit mulai pudar
4
7
5
1
-
-


Sedikit lunak
3
-
-
-
3
1


Lebih lunak,sisik mulai lepas
2
-
-
-
2
2


Sangat lembek,bila ditekan bekas jari masih Nampak
0
-
-
-
4
7
5
BAU DAN RASA
Segar,amis, khas spesies 
5
5
-
-
2
-


Agak kurang segar, amis
4
4
-
-
5
-


Tercium tidak segar, amis
3
1
-
-
1
3


Tercium bau amoniak, asam atau tengik
2
-
-
-
2
2


Bau busuk
0
-
-
-
-
5
Keterangan : dalam kelompok 1 ( satu ) terdiri dari 10 orang panelis.


v  Hasil rekap nilai dari kelompok 3 ( tiga )
no
Sasaran pengamatan
Keadaan
nilai
007
246
375
157
043
1
MATA
 sangat segar,cembung,hitam,kornea jernih
5
5
6
2
-
2


Segar, cembung, agak putih,kornea jernih
4
-
2
9
3
2


Agak tenggelam, biji mata kelabu, kornea agak kelabu
3
5
3
-
2
7


Tenggelam, biji mata putih susu, kornea keruh
2



2
-


Biji mata tenggelam penuh
0
-
-
-
-
-
2
INSANG
Merah cerah, lender cerah
5
5
6
-
2
2


Agak kecoklatan, lender masih jernih
4
-
-
2
-
2


Coklat memucat, lender kental
3
6
4
9
7
7


Coklat memucat, lendir banyak
2
-
1
-
2
-


Sangat coklat kehitaman, sangat banyak lender
0
-
-
-
-
-
3
DINDING PERUT
Perut utuh, keras,tdk ada perubahan warna
5
2
6
3
-
-


Dinding perut utuh,agak keras,sedikit perubahan warna
4
2
1
2
2
-


Dinding perut utuh,lunak,sedikit perubahan warna
3
7
4
5
2
8


Dinding perut banyak berubah warna dan lembek
2
-
-
1
7
2


Dinding perut berubah arna total,lembek,lembek mulai pecah,usus keluar
0
-
-
-
-
1
4
DAGING
Kenyal,elastic terhadap tekanan jari dan cerah
5
2
5
1
-
1


Kenyal,elastic terhadap tekanan jari dan kulit mulai pudar
4
2
2
1
2
3


Sedikit lunak
3
4
2
6
1
6


Lebih lunak,sisik mulai lepas
2
-
-
-
-
-


Sangat lembek,bila ditekan bekas jari masih Nampak
0
3
2
3
8
1
5
BAU DAN RASA
Segar,amis, khas spesies 
5
3
6
2
2
-


Agak kurang segar, amis
4
1
1
7
-
-


Tercium tidak segar, amis
3
5
1
-
5
2


Tercium bau amoniak, asam atau tengik
2
2
1
-
-
6


Bau busuk
0
-
2
3
4
3

v  Pembahasan
Pada praktikum penanganan ikan segar, kami menggunaka Metode Penentuan Kesegaran Ikan Secara Sensorik/Organoleptik Cara ini paling sering digunakan dalam praktek, terutama di pabrik-pabrik pengolahan ikan karena lebih mudah dan lebih cepat dikerjakan, tidak memerlukan banyak peralatan, serta murah.Cara ini menggunakan panelis/penguji yang bertugas memberikian nilai terhadap ikan yang akan diamati.
 Tolak ukur yang dilihat adalah sebagai berikut
1.    Mata
2.    Insang
3.    Dinding perut
4.    Daging
5.    Bau dan rasa
Pengamatan dilakukan secara visual. Panelis akan memberikan skor (nilai) pada faktor-faktor tersebut. Makin tinggi skor yang diberikan, berarti kondisi ikan makin segar.para panelis adalh mahasiswa yang melakukn praktikum pennanganan ikan segar.

            Dalam praktikum penangan ikan segar, dapat kita lihat tebel yang telah diberikan penilaian oleh para panelis, data penilaian ikan segar yang kelompok kami dapatkan adalah dat rekap nilai ikan segar dari kelompok 3 ( tiga ) dan kelompok kami sendiri yaitu kelompok 1 ( satu ), data dari kelompok 2 ( dua ) belum kami dapatkan, hal ini dikarenakan kurangnya koordinasi terhadap kelompok 2 ( dua ), dan aktu penggumpulan laporan yang sudah semakin dekat.

            Dari data rekap nilai ikan segar dapat kita lihat bahwa masing-masing tolak ukur atau bagian yang kami amati memiliki nilai-nilai yang menjadi penentu apakah ikan yang kami amati dalam keadaan baik atau sudah dalam keadaan kurang baik, bahkan dalam keadaan yang rusak.Dari ke lima ikan yang kami amati dapat kita lihat bersama kondisi ikan mulai dari ikan yang sangat baik sampai ikan yang keadaannya sangat buruk yaitu :
Ikan 157 : baik
Ikan 043 : sangat baik
Ikan 375 :sangat baik
Ikan 246 : baik
Ikan 007 : baik








4.2 Pengolahan Hasil Tangkapan
v  Hasil
Dalam praktikum pengolahan hasil tangkapan, kelompok kami mendapatkan bagian membuat kerupuk ikan. Hasil yang kami dapatkan dari pembuatan kerupuk ikan ini adalah cara pembuatan serta keahlian yang baru mengenai pengolahan hasil tangkapan serta hasil kerupuk ikan.

v  Pembahasan
Dari praktek pengolahan hail tangkapan yang dalam hal ini kelonpok kami menggolah ikan menjadi kerupuk ikan. Proses kerja / proses pembuatan kerupuk ikan ini berjalan cukup lama, jika dihitung hinga kerupuk ikan jadi kira-kira membutuhkan 2 hari, proses-proses itu dimulai dari pengeluaran daging ikan sampai pada pengorengan kerupuk ikan. Dalam tiap proses pengolahan kerupuk ikan perlu diadakannya kerja sama yang baik antara tiap anggota kelompok agar pembuatan kerupuk ikan ini berjalan dengan baik.

Proses pengolahan kerupuk ikan sampai benar-benar selesai memerlukan langkah atau prosedur kerja yang harus diikuti secara baik dan benar, jika pelaksanaan pembuatan kerupuk ikan keluar dari prosedur yang ditetapkan maka hasil yang didapatkanpun akan mendapatkan kualitas yang kurang baik ataupun buruk.

Tempat penggolahan hasil tangkapan ( ikan ) yang diolah menjadi kerupuk ikan, bertempat di belakang gedung perikanan, dan didalam lab mikro perikanan. Didalam lap proses pengolahan yaitu mencampurkan ikan dengan tepung, sedangkan proses pengukusan dilakukan diluar gedung perikanan.






BAB V
PENUTUP
5.1  kesimpulan

v  Penanganan Ikan Segar
Dari data serta informasi yang telah kami peroleh, dapat kami tarik suatu kesimpulan bahwa :
ü  Ikan yang memilki kualitas yang baik adalh ikan yang diberikan perlakuan yang baik pula, yaitu pada waktu penagkapan langsung diberikan perlakuan dengan cara memberikan batu es, yang bertujuan untuk mendinginkan ikan agar bakteri pembusuk tidak aktif bekerja.
ü  Dari ke lima ikan yang kami amati, semua ikian berada dalam kondisi yang baik, hal ini dapat kita lihat dari data penilaian yang kami dapatkan
ü  Oragan tubuh ikan yang dapat menjadi patokan/ tolak ukur penilaian ikan segar yaitu pada bagian mata, daging, insang.

v  Pengolahan Hasil Tangkapan
Dari data serta praktek langsung yang kami lakukan dalam pengolahan hasil tangkapan ikan  diolah menjadi kerupuk ikan, dapat kamu tarik kesimpulan sebagai berikut :
ü  Pengolahan ikan menjadi kerupuk ikan membutuhkan proses-proses/ langkah kerja yang perlu diperhatikan serta perlu diikuti, aga hasil yang diperoleh memiliki kualitas yang terbaik
ü  Cara pembuatan kerupuk ikan sangat sederhana dan mudah untuk membuatnya
ü  Pengolahan ikan menjadi kerupuk ikan, membutuhkan bahan-bahan utama untuk membuat kerupuk, bahan serta alat yang dibutuhkan sangat penting dalam pengolahan ini.


5.2 saran
            Adapun saran yang dapat kelompok kami beikan dalam hal memajukan praktikum ini adalah sebagai berikut :
ü  Para mahasiswa perlu aktif serta jeli dalam melakukan praktikum ini, karena dalam praktikum ini membutuhkan kemampuan diri para mahasiswa
ü  Perlu diadakannya koordinasi yang baik antara para anggota kelompok, agar dalam proses praktikum berjalan dengan baik.

























DAFTAR PUSTAKA

Gunarso, W., 1985.  Tingkah laku Ikan Dalam Hubungannya Dengan Metoda Dan Taktik Penangkapan. Diktak Kuliah (tidak dipublikasikan) Jurusan   Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor. Bogor 281.Hal.
Ayodyoa, A.U., 1967.  An Analysis of Indonesia Coastal Fisheries and A Study on the Control   Fish Movement by Light. Master Tesis. Tokyo University of Fisheries ,      Post graduated Course. Science of Fishing Method Laboratory



















LAMPIRAN

Alat dan bahan yang digunakan

Pengeluaran tulang, serta pengambilan daging ikan





Pengilingan ikan dan bawang putih, serta pemisahan serat-serat ikan

Daging yang telah digiling/diulek/dihancurkan

Pencampuran ikan dengan tepung

Pembentukan adonan serta pembungkusan adanan kedalam daun pisang


Proses pengukusan

Adonan yang telah selesai dikukus

Proses pemotongan adonan menjadi kerupuk ikan

Hasil pemotongan

Proses penjemuran kerupuk ikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar