Minggu, 03 Oktober 2010


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

    Di bumi ini banyak terdapat tumbuhan yang hidup di muka bumi ini, dan semuanya hidup dengan saling melengkapi dan saling menguntungkan satu sama lainnya, seperti mangrove adalah salah satu dari sekian banyak tumbuhan yang terdapat di muka bumi ini, keberadaan tumbuhan ini sangat menarik perhatian manusia, bukan karena kehidupannya yang penuh rahasia, tetapi juga karena manfaatnya yang besar bagi kehidupan manusia.
     
      Mangrove adalah tumbuhan yang sangat unik dan mempunyai manfaat serta peranan yang sangat besar bagi kehidupan manusia dan juga bagi bumi kita, oleh karena itu mangrove sangat banyak di minati untuk di teliti maupun di lestarikan atau di jaga bagi kelangsungan kehidupan tumbuhan ini dan segala makhluk hidup yang tergantung kepada tumbuhan ini.

      Mangrove sebagai salah satu faktor penyeimbang alam dan yang mempunyai manfaat besar bagi kelangsungan kehidupan seluruh makhluk hidup dan juga sebagai salah satu tumbuhan yang mempunyai manfaat yang besar bagi bumi ini sangat pantas jika kita mengatakan bahwa mengrove adalah rantai penyeimbang bagi seisi bumi, mangrove sangat unik dan beranekaragam, mangrove mempunyai banyak jenis, dan dari masing-masing jenis ini mempunyai karakteristik dan manfaat yang berbeda-beda pula bagi semua yang berada di sekitarnya.



1.2 Tujuan
     1)Untuk mengetahui kehidupan dan keanekaragaman mangrove
       2)Untuk mengetahui jenis-jenis mangrove apa saja yang di temukan pada tempat     pengambilan data (tampat praktek).
       3)Untuk mengetahui karateristik yang ada pada masing-masing jenis mangrove tersebut.


1.3 Manfaat
      1) Agar kami dapat mengenal apa itu tumbuhan mangrove dan bagaimana kehidupannya serta manfaatnya bagi makluk hidup dan juda bagi alam.
       2) Agar kami mendapat pengetahuan tentang jenis-jenis mangrove dan ciri-ciri atau karateristik yang dimiliki dari setiap jenis mangrove tersebut.




BAB II
METODE PRAKTIKUM

2.1 Waktu dan tempat
·        Praktikum yang di gunakan di pantai rendani. Dengan ekosistem mangrove yang dekatnya dengan muara sungai.
·        Pengambilan data dan sampel mangrove dari tiap-tiap jenisnya di mulai pukul 10.00-14.00

2.2 Alat dan bahan
         Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam melakukan kegiatan pengukuran antara lain :
·         Kamera digital
·         Alat tulis menulis
·         Sumber/intisari-intisari tentang mangrove
·         Buku

2.3 Jenis Mangrove yang di identifikasi
          Dari hasil praktek di lapangan yang telah di lakukan, telah di dapatkan berbagai jenis mangrove sebagai berikut :
·         Aegiceras floridum
·         Lumnitzera sp.
·         Lumnitzera littorea
·         Ceriops decandra
·         Rhizopora stylosa
·         Rhizopora apiculata
·         Ipomoea pes-caprae
·         Sonneratia alba
·         Scaevola taccada
·         Thespesia poupulnea
·         Hibiscus tiliaceus
·         Pandanus odoratissima
·         Pandanus tectorius
·         Bruguiera parviflora
·         Calophyllum inophyllum
·         Scyphiphora hydrophyllacea








2.4 Cara kerja
           Pengambilan contoh atau sampel mangrove dari jenis yang berbeda-beda di lakukan secara bersama-sama, sampel di kulpulkan satu per satu dan setelah terkumpulkan jenis-jenis mangrove yang berada di tempat pengambilan sampel (tempat praktik) maka mangrove yang telah di ambil sampelnya tadi di teliti berdasarkan deskripsi yang telah ada, setelah itu pemberian nama di lakukan sesuai dengan karakter dan ciri-ciri dari tiap jenis mangrove tersebut. Setelah dilakukan pemberian nama tersebut, maka sampel dari mangrove tersebut di foto sebagai bukti dan bahan untuk membuat laporan dan memberikan deskripsi dari mangrove tersebut.





































BAB III
H A S I L

3.1 Bentuk dan deskripsi
           Di bawah ini adalah berbagai bentuk dan deskripsi dari mangrove yang telah di temukan di tempat praktikum (Rendani):

1. Aegiceras floridum
Aegiceras floridum
Family : Myrsinaceae

UMUM
Bentuk pohon/perdu, tinggi mencapai 5 m
Akar tidak memiliki akar udara yang menyolok
Tipe Biji kriptovivipari
DAUN
Susunan tunggal, berseling
Bentuk bentuk telur sungsang
Ujung membundar hingga berlekuk
Ukuran panjang 3 - 6 cm
Lainnya daun memiliki kelenjar garam
BUNGA
Rangkaian tandan, berada di ujung
Mahkota 5, putih
Kelopak 5 helai, hijau
Ukuran panjang 0,4 cm
Lainnya tangkai bunga mencapai 2 cm, tangkai anak bunga 0,5 cm


BUAH
Ukuran diameter 0,7 cm , panjang 2- 3 cm
Warna hijau, kadang kemerahan saat masak
Permukaan halus
Lainnya buah silindris (bukan hipokotil), pendek, kaku, sedikit membengkok
LAIN-LAIN
Ciri Khusus cenderung lebih kecil pada semua bagian dibandingkan A. corniculatum
Spesies yang mirip A. corniculatum, A. marina, A. lanata, O. octodonta
Habitat ditemukan di pantai berpasir, tepi sungai, toleran terhadap salinitas tinggi


2. Scyphiphora hydrophyllacea
Scyphiphora hydrophyllacea                         Rubiaceae


Deskripsi      : Semak tegak, selalu hijau, seringkali memiliki banyak cabang, ketinggian mencapai 3 m. Kulit kayu kasar berwarna coklat, cabang muda memiliki resin, kadang-kadang terdapat akar tunjang pada individu yang besar.

Daun            : Daun berkulit dan mengkilap. Pinak daun berkelenjar, terletak pada pangkal gagang daun membentuk tutup berambut. Gagang daun lurus panjangnya hingga 13 mm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: bulat telur terbalik. Ujung: membundar. Ukuran: 4-9 x 2-5 cm.

Bunga          : Warna putih, hampir tak bertangkai, biseksual, terdapat pada tandan yang panjangnya hingga 15 mm. Letak: di ketiak daun. Formasi: kelompok (3-7 bunga per kelompok). Daun mahkota: 4-5; putih-agak merah, elips, 2-4 x 2- 2,5 mm, mulut berambut kasar. Kelopak bunga: 4-5; berbentuk mangkok, bawahnya seperti tabung (panjang 5mm). Benang sari: 4-5.

Buah            : Silindris, berwarna hijau hingga coklat, berurat memanjang dan memiliki sisa daun kelopak bunga. Tidak membuka ketika matang. Terdapat 4 biji silindris. Ukuran: buah: panjang 8 mm, biji: 1 x 2 mm.

Ekologi        : Tumbuh pada substrat lumpur, pasir dan karang pada tepi daratan mangrove atau pada pematang dan dekat jalur air. Nampaknya tidak toleran terhadap penggenangan air tawar dalam waktu yang lama dan biasanya menempati lokasi yang kerap tergenang oleh pasang surut. Dilaporkan tumbuh pada lokasi yang tidak cocok untuk dikolonisasi oleh jenis tumbuhan mangrove lainnya. Perbungaan terdapat sepanjang tahun, kemungkinan diserbuki sendiri atau oleh serangga. Nektar diproduksi oleh cakram kelenjar pada pangkal mahkota bunga. Banyak buah yang dihasilkan, akan tetapi pembiakan biji relatif rendah. Buah teradaptasi dengan baik untuk penyebaran oleh air karena kulit buahnya yang ringan dan mengapung.

Penyebaran  : India, Sri Lanka, Malaysia, seluruh Indonesia, Papua New Guinea, Filipina, Kepulauan Solomon dan Australia Tropis.

Kelimpahan  :

Manfaat       : Kayu kemungkinan dapat digunakan untuk peralatan makan, seperti sendok. Daun dapat digunakan untuk mengatasi sakit perut.

Catatan        : Sangat menyerupai Lumnitzera, tetapi daun Lumnitzera letaknya bersilangan.





3. Lumnitzera littorea
Lumnitzera littorea
(kedukduk)
Family : Combretaceae

UMUM
Bentuk pohon, tinggi mencapai 10 m
Akar banir kecil dan akar nafas, kadang-kadang tidak tmapk adanya akar udara
Tipe Biji biji normal
DAUN
Susunan tunggal, berseling
Bentuk bulat telur sungsang
Ujung membulat
Ukuran ukuran 4 - 7 cm
Lainnya permukaan atas dan bawah daun hampir sama
BUNGA
Rangkaian berduri, panjang 2 - 3 cm, berada di ujung
Mahkota 5, merah
Kelopak 5 helai, hijau
Benang Sari lebih dari 10
Ukuran diameter 0,5 - 0,7 cm ; panjang 1,6 - 1,8 cm
Lainnya benag sari lebih panjang daripada mahkota
BUAH
Ukuran panjang 2,0 - 2,5 cm
Warna hijau kekuning-kuningan
Permukaan mengkilap
Lainnya buah menyerupai vas bunga, bergabus, dapat mengapung, penyebaran melalui aurs air
LAIN-LAIN
Ciri Khusus mahkota merah (putih pada L. racemosa)
Spesies yang mirip L. racemosa , O. octodonta
Habitat pinggiran muara sungai berair tawar, tepian mangrove


4. Ceriops decandra
Ceriops decandra
(-)
Family : Rhizoporaceae

UMUM
Bentuk pohon/perdu, tinggi mencapai 3 m
Akar banir berasal dari seperti akar tunjang
Tipe Biji vivipari
DAUN
Susunan tunggal, bersilangan
Bentuk bentuk telur sungsang
Ujung membundar
Ukuran panjang 3 - 6 cm
BUNGA
Rangkaian berbunga 5-10, bersusun rapat, di ketiak daun
Mahkota 5, putih hingga coklat
Kelopak 5 helai, hijau
Ukuran diameter 0,4 - 0,5 cm
Lainnya bunga pada tangkai bunga pendek yang kokoh
BUAH
Ukuran diameter 0,8 - 1,23 , panjang mencapai 15 cm
Warna hipokotil hijau sampai coklat, leher kotiledon berwarna merah gelap ketika masak
Permukaan relatif licin, ujung berkutil, kasar
Lainnya buah silinder (hipokotil), tegak ujung tumpul, helaian kelopak tegak saat menjadi buah, dapat mengapung, penyebaran oleh arus air
LAIN-LAIN
Ciri Khusus tangkai bunga pendek, buah kaku dan lebih pendek dari C. tagal, leher kotiledon merah gelap
Spesies yang mirip C. tagal, A. cornicratum, A. floridum, O. octodonia
Habitat tumbuh subur di kawasan mangrove bagian dalam, daerah kering, daerah salinitas tinggi

5. Rhizopora stylosa$
Rhizopora stylosa
(Slindur)
Family : Rhizoporaceae

UMUM
Bentuk
pohon, tinggi hingga mencapai 6 m
Akar
akar tunjang
Tipe Biji
vivipari
DAUN
Susunan
tunggal, bersilangan
Bentuk
elips
Ujung
tajam (ujung memiliki bentukan seperti tonjolan gigi)
Ukuran
panjang 10 - 18 cm
Lainnya
permukaan bawah daun hijau kekuningan, terdapat bercak hitam kecil yang menyebar di seluruh permukaan bawah daun
BUNGA
Rangkaian
8 - 16 atau lebih, tersusun dua-dua, bergantung
Mahkota
4, putih
Kelopak
4 helai, hijau kuning
Ukuran
diameter 2,5 - 3,5 cm
Lainnya
benang sari panjang dan tipis, panjang 0,4 - 0,6 cm
BUAH
Ukuran
diameter 1,5 - 2,0 cm, panjang > 30 cm
Warna
hipokotil hijau sampai hijau kekuningan, leher kotiledon kuning kehijauan ketika matang
Permukaan
berbintil (relatif halus)
Lainnya
buah silindris (hipokotil), lebih kecil dari pada R. mucronata, terlepas mulai dari bawah kotiledon, dapat mengapung, penyebaran melalui arus air
LAIN-LAIN
Ciri Khusus
daun lebih kecil dari R. mucronata, menyempit ke arah tangkai daun, akar tunjang bercabang-cabang
Spesies yang mirip
R. mucronata, R. lamarckii, R. apiculata, B. gymnorrhiza, B. sexangra, B. parviflora, B. cylindrica
Habitat
tepian air laut, mudah beradaptasi pada kemiringan rendah






6. Rhizopora apiculata
Rhizopora apiculata
(-)
Family : Rhizoporaceae

UMUM
Bentuk pohon, tinggi hingga mencapai 15 m
Akar akar tunjang
Tipe Biji vivipari
DAUN
Susunan tunggal, bersilangan
Bentuk elips, menyempit
Ujung tajam (dengan ujung yang tiba-tiba tajam)
Ukuran panjang 9 - 18 cm
Lainnya permukaan bahawah daun hijau kekuningan, memiliki bintik-bintik hitam kecil yang menyebar di seluruh permukaan bawah daun
BUNGA
Rangkaian 2 per kelompok pada tangkai bunga yang kokoh, panjang tangkai hingga 1,4 cm, di ketiak daun
Mahkota 4, putih
Kelopak 4 helai, kuning kehijauan, diluar hijau kemerah-merahan
Ukuran 2,0 - 3,0 cm
Lainnya helai kelopak menyebar
BUAH
Ukuran diameter 1,3 - 1,7 cm, panjang 20 - 25 cm
Warna hipokotil hijau sampai coklat, leher kotiledon berwarna merah ketika masak
Permukaan berbintil (relatif halus)
Lainnya buah silindris (hipokotil), terlepas di bawah leher kotiledon, dapat mengapung, penyebaran melalui arus air
LAIN-LAIN
Ciri Khusus daun lebih kecil dari pada jenis Rhizopora lainnya
Spesies yang mirip R. mucronata, R. lamarckii, R. stylosa, B. gymnorrhiza, B. sexangra, B. parviflora, B. cylindrica
Habitat tumbuh subur di daerah muara sungai dengan lumpur lembut


7. Ipomoea pes-caprae
Ipomoea pes-caprae

Deskripsi : Herba tahunan dengan akar yang tebal. Batang panjangnya 5-30 m dan menjalar, akar tumbuh pada ruas batang. Batang berbentuk bulat, basah dan berwarna hijau kecoklatan.

Daun : Tunggal, tebal, licin dan mengkilat. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Bentuk: bulat telur seperti tapak kuda. Ujung: membundar membelah (bertakik). Ukuran: 3-10 x 3-10,5 cm.

Bunga : Berwarna merah muda - ungu dan agak gelap di bagian pangkal bunga. Bunga membuka penuh sebelum tengah hari, lalu menguncup setelah lewat tengah hari. Letak bunga: di ketiak daun pada gagang yang panjangnya 3-16 cm. Formasi: soliter. Daun mahkota: berbentuk seperti terompet/corong, panjang 3-5 cm, diameter pada saat membuka penuh sekitar 10 cm.

Buah : Berbentuk kapsul bundar hingga agak datar dengan empat biji berwarna hitam dan berambut rapat. Ukuran: buah 12-17 mm, biji 6-10 mm.

Ekologi : Tumbuh liar mulai permukaan laut hingga 600 m, biasanya di pantai berpasir, tetapi juga tepat pada garis pantai, serta kadang-kadang pada saluran air.

Penyebaran : Pan-tropis.

Kelimpahan : Manfaat : Bijinya dilaporkan sebagai obat yang baik untuk sakit perut dan kram. Daunnya untuk obat reumatik/nyeri persendian/pegal-pegal, wasir dan korengan, sedangkan akarnya sebagai obat sakit gigi dan eksim. Cairan dari batangnya digunakan untuk mengobati gigitan dan sengatan binatang. Wanita hamil dilarang memakai tanaman obat ini.



Catatan : Dua anak jenis dikenali oleh beberapa penulis, yaitu I. pes-caprae ssp. pescaprae yang memiliki cuping daun yang dalam, dan I. pes-caprae ssp. brasiliensis yang memiliki takik pada ujung daun. Keduanya terdapat di Indonesia, meskipun anak jenis yang terakhir hanya diketahui dari Sumatera Barat dan Pulau Krakatau.


8. Sonneratia alba
Sonneratia alba
Sonneratiaceae
Deskripsi : Pohon selalu hijau, tumbuh tersebar, ketinggian kadang-kadang hingga 15 m. Kulit kayu berwarna putih tua hingga coklat, dengan celah longitudinal yang halus. Akar berbentuk kabel di bawah tanah dan muncul kepermukaan sebagai akar nafas yang berbentuk kerucut tumpul dan tingginya mencapai 25 cm.

Daun : Daun berkulit, memiliki kelenjar yang tidak berkembang pada bagian pangkal gagang daun. Gagang daun panjangnya 6-15 mm.

Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: bulat telur terbalik. Ujung: membundar.

Ukuran: 5-12,5 x 3-9 cm.

Bunga : Biseksual; gagang bunga tumpul panjangnya 1 cm. Letak: di ujung atau pada cabang kecil. Formasi: soliter-kelompok (1-3 bunga per kelompok). Daun mahkota: putih, mudah rontok.

Kelopak bunga: 6-8; berkulit, bagian luar hijau, di dalam kemerahan. Seperti lonceng, panjangnya 2-2,5 cm. Benang sari: banyak, ujungnya putih dan pangkalnya kuning, mudah rontok.

Buah : Seperti bola, ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. Buah mengandung banyak biji (150-200 biji) dan tidak akan membuka pada saat telah matang. Ukuran: buah: diameter 3,5-4,5 cm.

Ekologi : Jenis pionir, tidak toleran terhadap air tawar dalam periode yang lama. Menyukai tanah yang bercampur lumpur dan pasir, kadang-kadang pada batuan dan karang. Sering ditemukan di lokasi pesisir yang terlindung dari hempasan gelombang, juga di muara dan sekitar pulau-pulau lepas pantai. Di lokasi dimana jenis tumbuhan lain telah ditebang, maka jenis ini dapat membentuk tegakan yang padat. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Bunga hidup tidak terlalu lama dan mengembang penuh di malam hari, mungkin diserbuki oleh ngengat, burung dan kelelawar pemakan buah. Di jalur pesisir yang berkarang mereka tersebar secara vegetatif. Kunang-kunang sering menempel pada pohon ini dikala malam. Buah mengapung karena adanya jaringan yang mengandung air pada bijinya. Akar nafas tidak terdapat pada pohon yang tumbuh pada substrat yang keras.

Penyebaran : Dari Afrika Utara dan Madagaskar hingga Asia Tenggara, seluruh Indonesia, Malaysia, Filipina, Australia Tropis, Kepulauan Pasifik barat dan Oceania Barat Daya.

Kelimpahan : Manfaat : Buahnya asam dapat dimakan. Di Sulawesi, kayu dibuat untuk perahu dan bahan bangunan, atau sebagai bahan bakar ketika tidak ada bahan bakar lain. Akar nafas digunakan oleh orang Irian untuk gabus dan pelampung.


9. Scaevola taccada
Scaevola taccada
Goodeniaceae
Deskripsi : Herba rendah/semak/pohon, dapat mencapai ketinggian hingga 3 m. Daun : Melebar kearah atas, berwarna hijau kekuningan dan mengkilat, tepinya melengkung dan permukaan daun seperti berlapis lilin.

Unit & Letak: sederhana dan bersilangan.

Bentuk: bulat telur terbalik hingga elips. Ujung: membundar. Ukuran: 16,5-30 x 7,5-9,5 cm.

Bunga : Letak bunga: di ketiak daun. Formasi: mengelompok. Daun mahkota: putih bersih, sering pada bagian dalamnya terdapat strip/garis berwarna jingga. Tangkai Putik: membengkok.

Buah : Berbentuk kapsul, bulat. Ketika muda berwarna hijau muda, lalu menjadi putih ketika sudah matang.

Ukuran: diameter buah 8-12 mm.

Ekologi : Dijumpai secara soliter di bagian tepi daratan dari mangrove, pada tepi pematang yang tidak terkena pengaruh pasang surut atau di daerah yang sistem drainasenya baik dan lokasinya terbuka terhadap cahaya.

Penyebaran : Mungkin ditemukan di seluruh Indonesia.

Kelimpahan : Manfaat : Tidak diketahui


10. Thespesia poupulnea
Thespesia populnea
Malvaceae
Deskripsi : Pohon dengan ketinggian 2-10 m.

Daun : Tebal, berkulit dan permukaannya halus.

Unit & Letak: sederhana dan bersilangan.

Bentuk: seperti hati. Ujung: meruncing.

Ukuran: 7-24 x 5-16 cm.

Bunga : Berbentuk lonceng, kuning muda dengan warna jingga/gelap di bagian tengah dasar. Tangkai putik menyatu, berwarna kuning dan ujungnya tumpul. Bunga berisi cairan seperti susu berwarna kuning yang kemudian akan berubah menjadi merah. Terdapat 3-8 pinak daun di bagian luar kelopak bunga.

Buah : Bakal buah juga memiliki cairan berwarna kuning. Buah seperti bola dan bersegmen, diameter 2,5-4,5 cm. Terdapat 3-4 biji pada setiap ruang/segmen buah yang padat ditutupi oleh rambut pendek .

Ekologi : Tumbuh di pantai, di pematang-pematang tambak dan bagian tepi daratan dari mangrove.

Penyebaran : Pan-tropis; di seluruh Indonesia.

Kelimpahan : Manfaat : Kayunya ringan. Pada masa lalu kulit kayu digunakan sebagai bahan serat. Daun dan buah digunakan sebagai obat.

11. Hibiscus tiliaceus
Hibiscus tiliaceus                                          Malvaceae


Deskripsi
:
Pohon yang tumbuh tersebar dengan ketinggian hingga mencapai 15 m. Kulit kayu halus, burik-burik, berwarna cokelat keabu-abuan.

Daun
:
Agak tipis (jika dibanding Thespesia populnea), berkulit dan permukaan bawah berambut halus dan berwarna agak putih. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Bentuk: seperti hati. Ujung: meruncing. Ukuran: 7,5-15 x 7,5- 14,5 cm.

Bunga
:
Berbentuk lonceng. Saat mekar (sore hari) berwarna kuning muda dengan warna jingga/gelap di bagian tengah dasar, lalu keesokan harinya keseluruhan bunga jadi jingga dan rontok. Dasar dari gagang tandan bunga yang memanjang ditutupi oleh pinak daun yang kemudian akan jatuh dan menyisakan tonjolan berbentung cincin. Letak: di ketiak daun. Formasi: soliter atau berkelompok (2-5). Daun mahkota: kuning, diameter 5-7 cm. Kelopak bunga: 5, bergerigi. Tangkai putik: ada 5 (tidak menyatu), dengan kepala putik berwarna ungu kecoklatan

Buah
:
Membuka menjadi 5 bagian, dan memiliki biji khas yang berambut. Ukuran: diameter buah sekitar 2 cm.

Ekologi
:
Merupakan tumbuhan khas di sepanjang pantai tropis dan seringkali berasosiasi dengan mangrove. Juga umum di sepanjang pinggiran sungai di kawasan dataran rendah. Perbungaan sepanjang tahun. Biji mengapung dan dapat tumbuh meskipun dimasuki air laut. Pada daun tua, kelenjar pengeluar gula seringkali berwarna hitam karena diserang jamur.

Penyebaran
:
Di seluruh Indonesia. Pan-tropis, setidaknya di penyemaian. Penyebaran geografis serta sifat ekologi alami belum diketahui secara pasti.

Kelimpahan
:


Manfaat
:
Ditanam sebagai pohon peneduh di taman. Akarnya digunakan sebagai obat demam. Serat kayu digunakan sebagai tali. Daun kadang-kadang digunakan sebagai makanan ternak. Kayu digunakan sebagai bahan pembuatan bagian dalam perahu (Lombok).



12. Pandanus odoratissima
Pandanus odoratissima
Pandanaceae

 Deskripsi : Pohon dapat mencapai ketinggian hingga 6 m.

Daun : Berduri pada sisi daun dan ujungnya tajam.

Panjang antara 0,5 – 2,0 meter.

Bunga : Letak: di ujung.

Benangsari: banyak.

Formasi: payung.

Buah : Seperti buah nenas dan ketika matang warnanya merah.

Ekologi : Tumbuh pada habitat dengan substrat berpasir di depan garis pantai, terkena pasang surut hingga agak ke belakang garis pantai.

Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia.

Kelimpahan : Manfaat : Sebagai tanaman hias dan tanaman pagar.


13. Pandanus tectorius

Pandanus tectorius
Pandanaceae
Deskripsi : Pohon dapat mencapai ketinggian hingga 6 m.

Daun : Berduri pada sisi daun dan ujungnya tajam.

Panjang antara 0,5 – 2,0 meter

Bunga : Warna merah-ungu.

Letak: di ujung.

Benangsari: banyak.

Formasi: payung.

Buah : Seperti buah nenas dan ketika matang warnanya kuning jeruk.

Ekologi : Tumbuh pada habitat dengan substrat berpasir di depan garis pantai, terkena pasang surut hingga agak ke belakang garis pantai.

Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia.

Kelimpahan : Manfaat : Dapat sebagai tanaman pagar. Bunganya dimanfaatkan untuk wangi-wangian dan hiasan pada acara pernikahan.


14. Bruguiera parviflora
Bruguiera parviflora                                     Rhizophoraceae


Deskripsi
:
Berupa semak atau pohon kecil yang selalu hijau, tinggi (meskipun jarang) dapat mencapai 20 m. Kulit kayu burik, berwarna abu-abu hingga coklat tua, bercelah dan agak membengkak di bagian pangkal pohon. Akar lutut dapat mencapai 30 cm tingginya.

Daun
:
Terdapat bercak hitam di bagian bawah daun dan berubah menjadi hijaukekuningan ketika usianya bertambah. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: elips. Ujung: meruncing. Ukuran: 5,5-13 x 2-4,5 cm.

Bunga
:
Bunga mengelompok di ujung tandan (panjang tandan: 2 cm). Letak: di ketiak daun. Formasi: kelompok (3-10 bunga per tandan). Daun mahkota: 8; putihhijau kekuningan, panjang 1,5-2mm. Berambut pada tepinya. Kelopak Bunga: 8; menggelembung, warna hijau kekuningan; bagian bawah berbentuk tabung, panjangnya 7-9 mm.

Buah
:
Buah melingkar spiral, panjang 2 cm. Hipokotil silindris, agak melengkung, permukaannya halus, warna hijau kekuningan. Ukuran: Hipokotil: panjang 8- 15 cm dan diameter 0,5-1 cm.

Ekologi
:
Jenis ini membentuk tegakan monospesifik pada areal yang tidak sering tergenang. Individu yang terisolasi juga ditemukan tumbuh di sepanjang alur air dan tambak tepi pantai. Substrat yang cocok termasuk lumpur, pasir, tanah payau dan bersalinitas tinggi. Di Australia, perbungaan tercatat dari bulan Juni hingga September, dan berbuah dari bulan September hingga Desember. Hipokotilnya yang ringan mudah untuk disebarkan melalui air, dan nampaknya tumbuh dengan baik pada areal yang menerima cahaya matahari yang sedang hingga cukup. Bunga dibuahi oleh serangga yang terbang pada siang hari, seperti kupu-kupu. Daunnya berlekuk-lekuk, yang merupakan ciri khasnya, disebabkan oleh gangguan serangga. Dapat menjadi sangat dominan di areal yang telah diambil kayunya (misalnya Karang Gading-Langkat Timur Laut di Sumatera Utara; Giesen & Sukotjo, 1991).

Penyebaran
:
Dari India, Seluruh Asia Tenggara (termasuk Indonesia) hingga Australia utara.

Kelimpahan
:


Manfaat
:
Untuk kayu bakar, tiang dan arang. Buahnya dilaporkan digunakan untuk mengobati penyakit herpes, akar serta daunnya digunakan untuk mengatasi kulit terbakar. Di Sulawesi buahnya dimakan setelah direndam dan dididihkan.

Catatan
:
Sama dengan B. exaristata dan B. gymnorrhiza, dan di masa lalu seringkali dikelirukan dengan kedua jenis tersebut. Identifikasi yang terbaik adalah melalui daun mahkota.


15. Calophyllum inophyllum
Calophyllum inophyllum
Guttiferae
Deskripsi : Pohon berwarna gelap, berdaun rimbun, ketinggian 10-30 m, biasanya tumbuh agak bengkok, condong atau bahkan sejajar dengan tanah. Memiliki getah lekat berwarna putih atau kuning.

Daun : Memiliki banyak urat dengan posisi lateral paralel dan halus. Bagian atas daun berwarna hijau tua dan mengkilap, bagian bawahnya hijau agak kekuningan. Unit &

Letak: sederhana dan berlawanan.
Bentuk: elips hingga bulat memanjang, agak mirip dengan daun Rhizopora mucronata (jenis bakau).

Ujung: membundar.

Ukuran: 10-21,5 x 6-11 cm.

Bunga : Biseksual, tandan bunga panjangnya hingga 15 cm serta memiliki 5-15 bunga per tandan.

Letak: di ketiak.

Formasi: bergerombol, menggantung seperti payung.

Daun mahkota: 4, putih dan kuning, harum, ukuran diameter 2-3 cm. Kelopak bunga: 4, dua dari kelopak bunga berwarna putih.

Benangsari: banyak.

Buah : Berbentuk bulat seperti bola pingpong kecil, memiliki tempurung kuat dan di dalamnya terdapat 1 biji.

Ukuran: diameter buah 2,5-4 cm.

Ekologi : Tumbuh pada habitat bukan rawa dan pantai berpasir, hingga ketinggian 200 m. Kadang-kadang tumbuh pada lokasi mangrove, biasanya pada habitat transisi. Tercatat di Sumatera di sepanjang Danau Singkarak pada ketinggian 386 m. Perbungaan nampaknya terjadi terus menerus sepanjang tahun, dengan satu atau lebih saat puncaknya. Penyerbukan hampir pasti dilakukan oleh serangga. Buah disebarkan melalui arus laut, atau oleh kelelawar yang memakan bagian luar buah yang berdaging.

Penyebaran : Dari Afrika Timur hingga Polinesia, dan dimasukan ke Pasifik. Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia, tercatat di Sumatera, Bali, Jawa, Kalimantan dan Irian Jaya.

Kelimpahan : Manfaat : Buah mudanya digarami untuk makanan. Dapat digunakan sebagai bahan pewarna, minyak, kayu dan obat-obatan. Di Bali, buahnya yang sudah tua dipakai bermain oleh anak-anak sebagai kelereng atau bola pingpong kecil. Di Australia, Malaysia dan Indonesia (Bali) sering ditanam sebagai pohon peneduh. Catatan :
















BAB IV
KESIMPULAN

     Dari hasil pengamatan dan praktikum yang telah kami lakukan di pantai rendani, kami mendapatkan beberapa jenis mangrove yang telah di teliti dan telah kami lakukan indentifikasi satu per satu, dan dari jenis-jenis mangrove ini masing-masing mempunyai deskripsi dan keistimewaan tersendiri, mangrove banyak terdapat di daerah-daerah pantai maupun rawa yang bersifat basah dan bergenangan air, disitulah mangrove berkembang dan menjadi salah satu factor penyeimbang di alam.

     Mangrove mempunyai banyak  jenis, di antaranya yang kami temukan pada saat praktikum yaitu Aegiceras floridum, Lumnitzera sp. ,Lumnitzera littorea, Ceriops decandra, Rhizopora stylosa, Rhizopora apiculata, Ipomoea pes-caprae, Sonneratia alba, Scaevola taccada, Thespesia poupulnea, Hibiscus tiliaceus, Pandanus odoratissima, Pandanus tectorius, Bruguiera parviflora, Calophyllum inophyllum, Scyphiphora hydrophyllacea,dan masing-masing dari jenis ini mempunyai perbedaan dan ada juga yang mempunyai kesamaan, baik dalam proses hidupnya, manfaatnya, maupun ciri-cirinya.

     Demikian laporan yang telah di buat, trimakasih atas kerjasamanya dan mohon maaf jika di dalam laporan ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan, sekian dan terimakasih.
























LAMPIRAN

 Berikut ini adalah gambar dari jenis-jenis mangrove yang kami temukan pada tempat praktikum yaitu di pantai rendani :



1. Aegiceras floridum
    


2. Scyphiphora hydrophyllacea
    



3. Lumnitzera littorea
    









4. Ceriops decandra
               

5. Rhizopora stylosa
    



6. Rhizopora apiculata
    









7. Ipomea pes-caprae
    



8. Sonneratia alba
    



9. Scaevola taccada
    









10. Thespesia poupulnea
    



11. Hibiscus tiliaceus
    



12. Pandanus odoratissima
    










13. Pandanus tectorius
    



14. Bruguiera parviflora
    



15. Calophyllum inophyllum
    

























Tidak ada komentar:

Posting Komentar